Jumat, 26 Maret 2021

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

    COACHING - DIFERENSIASI - KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL


Dalam proses coaching, ada seorang pelatih yang biasa disebut coach, dan juga ada orang yang dilatih yang biasa disebut coachee. Seorang coach hanya membantu agar si coachee bisa lebih efektif dan efisien dalam proses mencapainya dengan memaksimalkan potensi personal dan profesional dirinya. Teknik utama yang paling sering digunakan dalam coaching adalah questioning, yaitu bertanya. Coaching menjadi salah satu proses menuntun belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang pamong, guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. 
       Prinsip-prinsip coaching yaitu kemitraan : ditandai oleh adanya tujuan percakapan yang disepakati, idealnya tujuan datang dari coachee. Percakapan Kreatif : percakapan 2 arah, percakapan dilakukan untuk menggali, memetakan situasi coachee, percakapan ditujukan untuk menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru. Memaksimalkan Potensi : percakapan harus ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee, percakapan menghasilkan rencana Tindakan. Keterampilan dasar coaching diantaranya, keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan), keterampilan berkomunikasi, keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 
        Komunikasi yang memberdayakan terdiri dari a) komunikasi Asertif, komunikasi ini memahami gaya komunikasi manusia, komunikasi untuk membangun relasi (memunculkan rasa nyaman dan percaya), menyamakan posisi diri dengan lawan bicara, dan membangun ‘respect’. b) Pendengar Aktif bermakna mendengarkan mengandung arti menghadirkan diri secara utuh, c) bertanya efektif memiliki pertanyaan yang memungkinkan seluruh kompetensi dapat dievaluasi, d) umpan balik positif merupakan hal yang dapat memotivasi semua orang untuk tetap melakukan hal baik yang mereka kerjakan dengan bersemangat, bertekad tinggi dan kreatif.

TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

Berikut ini penjelasan mengenai tahapan – tahapan GROW :

  • Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
  • Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
  • Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
  • Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
Choaching MODEL TIRTA 
T : Tujuan 
I : Identifikasi 
R : Rencana Aksi 
TA: Tanggung jawab 
        Refleksi terkait coaching dapat membantu profesi sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid. Hubungan coaching dengan pembelajaran diferensiasi dan KSE begitu sangat penting. Dengan menerapkan coaching dalam proses pembelajaran akan mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi. Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar